![]() |
| Photo ThinkStock |
Sering pindah-pindah kerja dahulu sering dianggap negatif, terutama oleh pihak personalia atau manajer. Tapi di zaman sekarang ini anggapan seperti itu sudah kuno, kutu loncat sudah tidak dapat dihindari saat perekrutan. Sekarang ini zaman telah berubah, kita bukan lagi berada di zaman industri, tapi kita berada di zaman globalisasi / informasi. Banyak milyuner-milyuner baru bermunculan yang bahkan tidak memiliki pabrik untuk produksi. Seperti Mark Zuckerberg contohnya. Berikut tulisan Pindah Kerja Setiap 3 Tahun Sekali, Kenapa?
Pada zaman sekarang ini, loyalitas akan kalah sama prestasi. Berapa banyak contoh di lingkungan kerja kita, orang yang sudah kerja diatas 5 tahun, umur sudah tidak mudah ( > 35 ) tapi masih di posisi staff. Malahan di posisi manajer diisi oleh anak-anak muda yang sering pindah-pindah kerja tapi prestasinya jelas. Tapi, jika baru kerja 3 bulan udah pindah itu pasti di cap negatif, pihak personalia atau manajer memandang bahwa kita bermasalah di tempat kerja sebelumnya.
Ini juga yang saya alami, kerja baru berapa bulan tapi sudah pindah alias kutu loncat. Dalam 2 tahunan saya udah kerja di 3 tempat berbeda, ini tentu menjadi tanda tanya oleh pihak personalia, kenapa kita terlalu sering pindah kerja? yah setelah artikel ini saya buat, pastinya akan saya ikutin setiap 3 tahun sekali. Selagi umur masih 21 tahun, kenapa tidak mencoba hal baru bukan?
Tapi perlu diperhatikan, jika setiap 3 tahun sekali kita pindah kerja harus memperhatikan jenjang karir karena semakin tua umur kita maka akan menjadi faktor penentu perusahaan untuk menerima kita. Biasanya sih untuk posisi-posisi kunci di perusahaan malahan umur diatas 40 tahun yang mengisinya. Itulah beberapa alasan Pindah Kerja Setiap 3 Tahun Sekali, Kenapa?

0 Response to "Pindah Kerja Setiap 3 Tahun Sekali, Kenapa?"
Post a Comment